Popular Posts

Selasa, 22 Februari 2011

AKU INGIN MATI...


"Guru, saya sudah bosan dengan hidup ini. Sudah jemu betul rasanya. Rumah tangga saya berantakan, tidak lagi harmoni. Perniagaan saya pula semakin merosot . Apapun yang saya lakukan kelihatan hanya menghasilkan kekecewaan sahaja. Saya ingin mati."

Si Guru tersenyum, "Oh, kamu sakit."

"Tidak, saya tidak sakit. Saya sihat. Hanya sudah putus asa dan jenuh dengan kehidupan. Itu sebabnya saya ingin mati."

Seolah-olah tidak mendengar pembelaannya, Si Guru meneruskan, "Kamu sakit. Dan penyakitmu itu di panggil, 'Alahan Hidup'. Ya, kamu alergi terhadap kehidupan."

Banyak sekali di antara kita yang alergi terhadap kehidupan. Kemudian, tanpa disedari kita melakukan hal-hal yang bertentangan dengan norma kehidupan. Hidup ini terus berjalan. Sungai kehidupan terus juga mengalir, tetapi kita menginginkan status-quo. Kita berhenti di satu sudut dan kita tidak lagi ikut mengalir bersama aliran air. Itu sebabnya kita jatuh sakit. Kita mengundang penyakit. Kita menahan diri untuk terus ikut mengalir bersama kehidupan. Itulah yang membuatkan diri kita sakit.

Selagi ia bernama usaha atau ikhtiar, pasti ada pasang-surutnya. Dalam hal berumah-tangga, turut dipengaruhi oleh masalah yang sama. Ia sebuah lumrah. Persahabatan pun tidak selalu berjalan lancar… tidak selamanya tenang. Mana ada yang berkeadaan statik dalam kehidupan ini. Adakah kita tidak menyedari sifat kehidupan memang sebegitu kejadiannya? Kita sentiasa ingin mempertahankan suatu keadaan. Tapi kemudian kita gagal, kecewa dan menderita.

"Penyakitmu itu boleh disembuhkan, asal saja kamu ingin sembuh dan bersedia menurut tunjuk ajarku." Demikian Si Guru memberikan saranan.

"Tidak Guru, tidak. Saya sudah betul-betul jemu. Tidak, saya tidak ingin hidup lagi." Lelaki itu menolak tawaran Si Guru.

"Jadi kamu tidak ingin sembuh. Kamu betul-betul ingin mati?"

"Ya, memang saya sudah bosan dengan hidup."

"Baiklah jika begitu keputusanmu. Petang esok kamu akan mati. Ambillah botol ubat ini. Setengah botol diminum malam ini, setengah botol lagi esok petang, pukul 6 dan tepat jam 8 malan nanti kamu akan mati dengan tenang."

Giliran si lelaki itu pula menjadi binggung. Setiap guru  yang dia datangi selama ini selalu berupaya untuk memberikannya kata-kata semangat untuk terus hidup. Yang satu ini aneh. Malahan, ia menawarkan racun pula. Tetapi, kerana dia memang sudah betul-betul jenuh, dia menerimanya dengan senang hati.

Sesampainya di rumah, dia terus menghabiskan setengah botol racun yang disebut "ubat" oleh gurunya itu. Dan, ia merasakan ketenangan sebagaimana tidak pernah ia rasakan sebelumnya. Begitu damai, begitu santai! Tinggal 1 malam, 1 hari lagi, dan ia akan mati. Ia akan dibebaskan dari segala macam masalah.

Malam itu, ia memutuskan untuk makan malam bersama keluarga di hotel 5 bintang. Sesuatu yang sudah tidak dilakukan selama beberapa tahun terakhir ini. Oleh kerana malam ini adalah malam terakhirnya, ia ingin meninggalkan kenangan manis buat ahli keluarganya. Sambil makan, ia bersenda gurau. Suasananya sangat santai.

Sebelum tidur, ia mencium kening isterinya dan membisik di cupingnya, "Sayang, aku mencintaimu." Hatinya berbisik, ‘Kerana malam itu adalah malam terakhir, aku ingin meninggalkan kenangan manis’.

Esoknya bangun tidur, ia membuka jendela kamar tidur dan melihat ke luar. Tiupan angin pagi menyegarkan tubuhnya. Dan ia terasa ingin untuk melakukan jogging pagi itu. Pulang ke rumah setengah jam kemudian, ia melihat isterinya masih tidur. Tanpa mengejutkannya, ia masuk ke dapur dan membuat 2 cawan kopi. Satu untuk dirinya, satu lagi untuk isterinya. Hatinya berbisik, ‘Kerana pagi itu adalah pagi terakhir, ia ingin meninggalkan kenangan manis’.

Di pejabat, ia menyapa setiap orang, bersalaman dengan setiap orang. Pekerjanya pun menjadi binggung dengan tingkah laku majikan mereka, "Hari ini, perangai Boss kita aneh ya ?" Dan sikap mereka pun langsung berubah. Mereka pun menjadi ramah serta mesra. Hatinya terus berbisik, ‘Kerana siang itu adalah siang terakhir, ia ingin meninggalkan kenangan manis’.

Tiba-tiba, segala sesuatu di sekitarnya berubah. Ia menjadi ramah dan lebih toleransi, bahkan bersikap terbuka terhadap pendapat-pendapat yang berbeza. Tiba-tiba hidup menjadi indah. Ia mulai menikmatinya. Pulang ke rumah jam 5 petang, ia mendatangi isteri tercinta yang menunggunya di beranda depan. Kali ini si isteri pula yang memberikan ciuman kepadanya, "Sayang, sekali lagi abang ingin minta maaf, kalau selama ini abang selalu menyusahkanmu" Katanya.

Anak-anak pun tidak ingin ketinggalan, "Ayah, maafkan kami semua. Selama ini, ayah selalu tertekan kerana tingkahlaku kami."

Tiba-tiba, sungai kehidupannya mengalir kembali. Tiba-tiba, hidup menjadi sangat indah. Ia mengurungkan niatnya untuk bunuh diri. Tetapi bagaimana dengan setengah botol yang sudah ia minum, petang semalam?

Ia segera mengunjungi gurunya petang itu. Melihat wajah lelaki itu, rupanya Si Guru sudah mengetahui apa yang telah terjadi, "Buang saja botol itu. Isinya air biasa saja, kau sudah sembuh. Apabila kau hidup dalam masa ini apabila kau hidup dengan kesedaran bahawa maut dapat menjemputmu bila-bila masa saja, maka kau akan menikmati setiap detik kehidupan. Leburkan egomu, keangkuhanmu, kesombonganmu. Jadilah lembut, selembut air. Dan mengalirlah bersama sungai kehidupan. Kau tidak akan jenuh, tidak akan bosan. Kau akan merasa hidup. Itulah rahsia kehidupan. Itulah kunci kebahagiaan. Itulah jalan menuju ketenangan." Kata Si Guru.

Lelaki itu mengucapkan terima kasih dan bersalam, malah memeluk erat Si Guru. Lalu ia pulang ke rumah, untuk mengulangi pengalaman malam sebelumnya.

Hingga kini, ia masih mengalir terus. Ia tidak pernah lupa hidup dalam masa ini dan belajar melepaskan beban di hati. Itulah sebabnya, ia selalu bahagia, selalu tenang, selalu hidup.

Hidup bukanlah merupakan suatu beban yang harus dipikul tapi merupakan suatu anugerah untuk dinikmati…..

Wassalam.

1 ulasan: