Popular Posts

Isnin, 19 Disember 2011

ERTI KEHIDUPAN...




Sebuah kisah... seorang pemuda mendatangi lelaki tua bijak yang tinggal di sebuah desa yang begitu damai. Setelah menyapa dengan santun, si pemuda menyampaikan maksud dan tujuannya. "Saya menempuhi perjalanan jauh ini untuk mencari cara membuat diri sendiri selalu bahagia, sekaligus membuat orang lain selalu gembira."



Sambil tersenyum, lelaki tua itu berkata, "Wahai anak muda, orang seusiamu memang memiliki keinginan begitu, sungguh bukanlah ia luar biasa. Baiklah, untuk memenuhi keinginanmu, pakcik akan memberikan padamu empat kalimat. Perhatikan baik-baik ya...!"



"Pertama, anggap dirimu sendiri seperti orang lain!" Kemudian, orang tua itu bertanya, "Anak muda, adakah kamu mengerti kalimat pertama ini? Cuba fikir baik-baik dan beritahu pakcik apa yang kamu fahami tentang hal ini."



Si pemuda menjawab, "Jika boleh menganggap diri saya seperti orang lain, maka saat saya menderita, sakit dan sebagainya, dengan sendirinya perasaan sakit itu akan semakin berkurang. Begitu juga sebaliknya, jika saya mengalami kegembiraan yang luar biasa, dengan menganggap diri sendiri seperti orang lain, maka kegembiraan tidak akan membuatku lupa diri. Apakah betul, pakcik?"



Dengan wajah tenng, lelaki tua itu mengangguk-anggukkan kepala dan melanjutkan kata- katanya. "Kalimat kedua, anggap orang lain seperti dirimu sendiri!"



Pemuda itu berkata, " Dengan menganggap orang lain seperti diri kita, maka saat orang lain sedang berduka, kita mampu merasai kedukaannya, malahan menghulurkan tangan untuk membantu. Kita juga dapat menyedari akan keperluan dan keinginan orang lain. Berjiwa besar serta penuh tolak ansur. Betul, pakcik?"



Dengan raut wajah semakin cerah, lelaki tua itu kembali mengangguk-anggukkan kepala. Ia berkata, "Seterusnya ke kalimat ketiga. Perhatikan kalimat ini baik-baik, anggap orang lain seperti diri mereka sendiri!"



Si anak muda kembali mengutarakan pendapatnya, "Kalimat ketiga ini menunjukkan bahawa kita harus menghargai hak peribadi orang lain, menjaga hak asasi setiap manusia dengan adil dan saksama. Sehingga, kita tidak perlu saling menyerang peribadi dan menyakiti orang lain. Tidak saling mengganggu. Setiap orang berhak menjadi dirinya sendiri. Bila terjadi perbezaan pendapat, masing-masing boleh saling menghargai."



Kata lelaki tua itu, "Bagus, bagus sekali! Nah, kalimat keempat: anggap dirimu sebagai dirimu sendiri! Kamu telah menyelesaikan semua jawapan atas pertanyaan saya. Kalimat yang terakhir memang sesuatu yang sedikit luar biasa. Maka renungkan baik-baik."



Pemuda itu nampak kebingungan. Katanya, "Pakcik, setelah memikirkan keempat-empat kalimah tadi, saya merasa ada yang tidak secocok, malahan bertentangan. Bagaimana caranya saya dapat merangkum keempat-empat kalimah tersebut menjadi satu? Dan, berapa lama waktu untuk saya mengerti semua kalimah pakcik sehingga saya boleh selalu gembira dan sekaligus dapat membuat orang lain juga gembira?"



Spontan, lelaki tua itu menjawab, "Mudah. Renung dan gunakan waktumu seumur hidup untuk belajar dan mengalaminya sendiri."



Selepas pertemuan tersebut, si pemuda meneruskan kehidupan dan akhirnya meninggal. Sepeninggalannya, orangramai sering menyebut nama dan membicarakan tentang dirinya. Dia mendapat gelaran sebagai: "Orang bijak yang selalu gembira dan sentiasa menyebarkan kegembiraannya kepada setiap orang yang ditemui."




Pengajarannya, sebagai makhluk sosial, kita dituntut untuk belajar mencintai kehidupan dan berinteraksi dengan manusia lain di muka bumi ini. Selama kita mampu menempatkan diri, tahu dan mampu menghargai hak-hak orang lain, serta mengerti keberadaan jatidiri sendiri di setiap langkah dalam proses kehidupan, maka kita akan menjadi manusia yang bertolak ansur. Secara langsung, di mana pun kita bergaul dengan manusia lain, insya Allah akan selalu timbul kehangatan, kedamaian, dan kegembiraan. Sehingga, kebahagiaan hidup akan muncul secara semulajadi... sungguh luar biasa kehidupan ini...!



Wallahu`alam




Jagalah Hati...



Wassalam.

Tiada ulasan:

Catat Ulasan